Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh kawan-kawan… Ini cerita keempat yang juga terakhir untuk kategori Kumpulan cerita fiksi karya anak kelas IV Sdit Bunayya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia materi teks fiksi. Happy reading man teman
Gambar anak anak kelas IV A
HANTU PENUNGGU JALAN
Di pagi hari yang sedikit mendung Dono, Joni dan Odo berencana untuk pergi ke Padang di sore hari. Sambil mempersiapkan barang dan bekal makanan, Odo menonton TV dan menampilkan berita kecelakaan di Sitinjau Lauik. Otomatis Odo merasa cemas karena kemungkinan saat perjalan nanti mereka akan melewati jalan yang sama tempat terjandinya kecelakaan tersebut. Namun mereka masih tetap memutuskan untuk pergi ke Padang.
Sampailah mereka di bus saat ini. Jono dan Odo duduk bersebelahan sedangkan Joni duduk bersebelahan dengan orang yang menurut nya sangat aneh. Penumpang di samping Joni ini selalu mengatakan ‘KITA AKAN MATI’. karena tidak nyaman, Joni pindah ke kursi yang kosong.
Kini mereka sedang melewati tempat kejadian kecelakaan yang tadi pagi mereka lihat di TV. Ternyata ada terjadi kecelakaan. Joni Odo dan Jono turun dari bus, diikuti dengan langit sore cerah yang berubah mendadak kelabu. Seketika mereka bertiga takut. Tiba-tiba dari arah Jono muncul hantu. Mereka mencoba lari sekuat tenaga agar merasa aman namun tetap saja mereka terlambat. Ternyata mereka di TELEPORTASI ke ruangan tanpa batas bernama back room dan kejadian kembali lagi pada saat pagi tadi ketika mereka menyusun barang bawaan dan Odo yang menonton berita kecelakaan di Televisi. Cerita berulang kembali hingga mereka sampai di bus dan begitulah seterusnya. Tamat…
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh teman-teman, ini adalah cerita fiksi yang ketiga dari yang sebelumnya ada cerita dari Bang Rezky dan bang Uwais. Happy reading
Takbir Allahuakbar
“MONYET BIJAK DAN KATAK“
Di sebuah hutan belantara, hiduplah beberapa hewan dalam satu wilayah. Diceritakan bahwa pada suatu hari, Monyet bermain ke Rawa yang berada di pinggir hutan. Disana Monyet berjumpa dengan si Katak. Si Katak memiliki sifat dan berperilaku yang sangat kurang terpuji.
Monyet berusaha untuk selalu menasehati agar Katak tidak berkata kasar dan menghina mahluk lainnya. Monyet ingat akan pesan Rasulullah SAW. bahwa ‘Diam lebih baik daripada berbicara yang buruk’. Namun lagi-lagi katak tidak mendengarkannya dan tidak peduli akan nasehat dari seluruh teman -temannya.
Hingga pada suatu ketika, Monyet mengajak Katak untuk menemaninya pergi ke pasar. Katak pun setuju dan mereka berangkat bersama. Sesampainya di pasar, Katak merasa heran kenapa dirinya dijauhi dan ada juga yang mengusir katak agar tidak mendekati pasar.
Katak : “Monyet, kenapa mereka menjauhiku? Kenapa tatapan mereka tidak ramah kepadaku? ” Tanya Katak.
Monyet : “Lihat lah Katak, ini adalah akibat dari perilaku dan ucapanmu yang kasar terhadap yang lainnya. Mungkin kamu tidak sadar bahwa mereka sudah sakit hati dan menyimpan nya di dalam hati mereka. Oleh karena itu sekarang lebih baik kamu mulai berubah dan memohon ampun kepada Allah, meminta maaf kepada teman-teman kita dan berjanji tidak mengulang lagi. ” ucap Monyet. Semenjak saat itu alhamdulillah Katak lebih baik dan berusaha agar menjaga lisannya untuk selalu berkata yang baik.
Nahhh, setelah membaca cerita di atas, kamu masuk team nya Katak atau Monyet?.. Jangan mau seperti Katak ya teman-teman… Yuk kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Keep Hamasah
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh ini cerita kedua dari Kumpulan cerita fiksi hasil karya sendiri kelas IV Sdit Bunayya. Happy reading
Monyet Pemalas
Pada suatu pagi menjelang siang, ada seekor monyet yang sedang tidur di rumahnya. Tiba-tiba monyet terbangun karena pohon rumahnya diayun-ayunkan oleh si Tupai. Monyet merasa terganggu dan terusik sehingga Monyet pun memarahi Tupai.
Monyet : “Hey Tupai, mengapa kamu mengayun-ayunkan rumahku? Tidak kah kamu lihat aku sedang tertidur di atas nya? “ucap monyet
Tupai : “Maafkan aku Monyet, tapi aku sedang mengumpulkan bahan makanan simpanan.” jawab Tupai.
Monyet : “Kenapa mesti sekarang? Kan kamu bisa ambil buah yang berjatuhan di bawah”. Geram monyet
Tupai : “Iya iya aku minta maaf“. Ucap Tupai seraya pergi meninggalkan monyet.
Keesokan harinya, Tupai mengulangi perbuatannya kemarin dengan membuat keributan saat Monyet tertidur.
Monyet : “Kenapa kamu ribut kembali, Tupai? Bukankah kemarin kamu sudah mengambil bahan makanan untuk di simpan, lantas kenapa mengganggu ku lagi?
Tupai : “Kita harus siaga monyet, jangan sampai kita kehabisan makanan seperti musim kering yang lalu” tegas tupai.
Hari berganti hari, akhirnya musim kering pun tiba. Tupai dengan persediaan makananya tidak lagi khawatir kekurangan makanan. Namun berbeda dengan Monyet yang kesana kemari mencari makanan yang sudah tidak ada lagi.
Monyet ingin meminta makanan kepada Tupai. Namun monyet merasa malu sekali. Alhamdulillah nya, Tupai Melihat dan merasa iba kepada monyet dan memberikan makannya kepada Monyet. Akhirnya monyet pun berjanji tidak akan malas lagi mengumpulkan makanan dan akan membantu orang lain saat mengalami kesusahan. Tamat
Nahh loo, setelah membaca cerita di atas, kira kira pesan apa yang bisa kita ambil? Yok saling mengingat dalam kebaikan..
Bagi yang mau membaca kisah si Raksasa yang Marah link nya dibawah ini
Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, kali ini blog kita akan diisi oleh beberapa cerita fiksi hasil karya original dari teman teman kita dari SDIT BUNAYYA kelas IV, yuk kita baca bersama dan ambil amanat yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari.
Di hutan yang rimba, hiduplah seorang raksasa yang ramah dan baik hati. Si Raksasa menghabiskan waktu nya sepanjang hari di hutan yang luas itu, mulai dari mandi, makan dan melakukan pekerjaan lainnya. Pada suatu siang yang terik, saat raksasa tertidur pulas, datanglah seorang manusia yang masuk ke gua tempat raksasa tinggal. Mereka akhirnya berkenalan dan diketahui bahwa si Manusia tinggal di istana yang jaraknya tidka jauh dari gua tempat si Raksasa tinggal.
Hari demi hari, bulan demi bulan pun terlewati tidak terasa mereka pun saling berteman dan bersahabat hingga tibalah saatnya si Manusia kembali ke istana dan meninggalkan si Raksasa.
Suatu hari, ada ancaman yang mengancam istana karena ada batu yang sangat besar akan terguling ke arah istana. Dengan tulus dan ikhlas si Raksasa membantu menahan batu tersebut agar tidak mengenai istana.
Foto pemanis dari kelas IV A sdit Bunayya Padangsidimpuan
Setelah sekian lama Raksasa menahan batu tersebut, raksasa sedikit demi sedikit juga ikut tergrlincir dan akhirnya mengenai sedikit wilayah istana. Orang-orang yang mengira bahwa raksasa dengan sengaja melepaskan batu itu pun menyerang Raksasa dengan anak panah.
Akhirnya dengan rasa sakit terkena anak panah dan disangka yang buruk oleh manusia, si Raksasa marah dan melepaskan batu besar itu sampai mengenai seluruh istana hingga istana dan seisinya hancur berkeping-keping.
Nah, begitu lah cerita dari teman kita Rezky. Rezky berpesan dari cerita ini agar kita jangan pernah berburuk sangka dan lupa berterimakasih kepada orang lain seperti tokoh manusia dalam cerita diatas.
Postingan kali ini adalah tentang gimana sih suka duka jadi Mahasiswa/I PGMI. Oke, alasan saya menulis postingan ini adalah karena saya memang adalah seorang Mahasiswi PGMI tentunya. Sama hal nya dengan jurusan lain juga PGMI pasti memiliki suka dan dukanya dan akan mewarnai kehidupan Mahasiswa/I PGMI yang bakalan dikenang selamanya. Banyak yang berfikir bahwa jurusan PGMI itu adalah jurusan yang mudah, tapi yakinlah bahwa jurusan PGMI itu lebih sulit dan sangat sulit sekali. Oleh karena itu saya akan membuat sauka duka menjadi Mahasiswa/I PGMI. Tapi untuk suka nya menjadi Mahasiswa/I PGMI bisa dilihat pada postingan saya yang sebelumnya yaitu disini . Jadi Adapun duka nya menjadi Mahasiswa/I PGMI yaitu: 1. Sering Dipandang Sebelah Mata Bagi Orang-Orang Yang Tidak Faham Apa Itu PGMI Ini nih yang paling sering saya rasakan terlebih lagi pada saat pulang kampong, dan setiap libur semesternya pasti ada saja yang bertanya apa jurusan PGMI itu. Terkadang saya juga heran kenapa mereka memandang sebelah mata jurusan ini, Mungkin mereka menganggap kalau untuk mengajari dan menjadi guru SD/MI itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Padahal pada kenyataanya apabila kita salah metode dan media pembejaran dalam mendidik sangat berdampak besar bagi perkembangan belajar anak dan banyak orang yang tidak sadar akan itu. Paradigma Inilah yang seharusnya kita ubah dari pola pikir masyarakat, karena sesungguhnya setiap tingkatan belajar itu harus dipandu dan didiawasi oleh guru yang memang menguasai bidangnya. 2. Kebanyakan Orang Berfikir Bahwa Semua Mata Kuliah PGMI Itu Adalah Mata Pelajaran Anak Tingkat Mi/SD Salah Besar jika berfikiran seperti itu. Sebab Mahasiswa/I PGMI juga belajar tentang semua mata kuliah yang dipelajari mahasiswa/I jurusan lain bahkan kami juga mempelajari semua mata pelajaran yang dulunya di pelajari di SMP dan SMA. Salah besar jika berfikiran bahwa tugas kami hanyalah mempelajari baca dan tulis karena pada kenyataannya kami juga mengikuti KKNI yang maknanya semua tugas CBR, CJR, Rekayasa Ide, mini riset dan semua yang terangkum dalam KKNI juga kami kerjakan. Dan jika dibandingkan dengan tugas mahasiswa di jurusan pendidikan yang lain, tugas kami tampaknya lebih banyak dan lebih ruwet. 3. Pada Saat Persentasi Mengajar Didepan Kelas Terkadang Teman-Teman Sekelas Kita Lebih Sulit Diajari Daripada Anak Sd/Mi Sebenarnya Sebenarnya hal ini kurang tepat jika dikatakan duka menjadi Mahasiswa/I PGMI tapi memang pada kenyataannya kami memang dituntut menjadi anak SD/Mi saat ada teman sekelas yang persentasi, jadi mengertilah ya kann… 4. Sebenarnya Duka Yang Sebenarnya Yaitu Saat Kita Mengajari Anak Didik Namun Anak Didik Kita Sulit Paham Dengan Yang Kita Jelaskan Mungkin bukan hanya untuk Mahasiswa/I PGMI saja, tetapi untuk seluruh calon pendidik atau pendidik. Sangatlah sedih jika pada kenyataannya bahwa anak didik tersebut tidak faham dengan penjelasan kita. Oleh karena itu kita sebagai Mahasiswa/I PGMI memang harus dapat bersikap kompeten terhadap tanggungjawab mendidik peserta didik, karena MI/SD adalah dasar pembelajaran anak didik menuju ke jenjang yang lebih tinggi lagi, disinilah dasar pendidikan itu ditanamkan dalam akhlak anak didik. Oleh karena itu kepada semua Mahasiswa/I PGMI seharusnya kita sadar atas tanggungjawab yang kita emban saat kita memutuskan untuk kuliah di jurusan PGMI. Kita harus belajar dan memahami setiap instruksi dari dosen dan mengerjakan semua tugas yang diberi dosen dengan ikhlas karena hanya saat kuliah inilah kita dapat berlatih untuk menjadi pendidik yang profesional, jangan lagi kita anggap enteng dengan semua tugas dan pelajaran di kuliah karena disilah dasar yang akan membentuk bagaimana kita saat menjadi seorang pendidik dimasa mendatang.
Mungkin segini saja postingan kali ini semoga bermanfaat bagi kita semua terkhusus untuk Mahasiswa PGMI dan mudah-mudahan agar dapat mengubah kita menjadi lebih baik lagi untuk kedepannya. Terima Kasih Salam Saya Sulistianti Siregar Dari PGMI 4 Semester 3 2017 UIN Sumatera Utara Medan Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh
Apa yang anda fikirkan jika disebut kata “Palang Merah”? Donor Darah? Cek Kesehatan? Atau mobil putih yang sering ada di event-event di kampus?
Benar, namun ternyata perlu kita ketahui bahwa Palang Merah sebenarnya sudah lahir bahkan jauh sebelum kemerdekaan Indonesia loh!
Nah, kita akan mengulas sedikit mengenai sejarah maupun isu mengenai Palang merah akhir-akhir ini. Pembahasan mengenai Palang Merah tidak akan ada habisnya. Bagimana tidak, setiap lini kehidupan terkhusus pada masa oandei Covid-19 saat ini nama Palang merah selalu dikaitkan sebab banyak memberikan sumbangsih tenaga berupa edukasi seputar protocol kesehatan maupun sebagai relawan dalam upaya memutus mata rantai penyebaran pandemic saat ini.
Lambang Palang Merah Indonesia
Jika ditelik lagi, jauh sebelum pandemi, Palang Merah juga mengambil andil yang besar dalam membantu korban bencana sebagai organisasi yang selalu berusaha untuk menyuplai stok darah yang tentunya sangat penting saat terjadi musibah. Namun jika ditelik lagi sejarah lahirnya Palang Merah itu sendiri tidak seluas cakupan Palang Merah saat ini. Selain permasalahan yang mucul saat itu juga sangat berbeda dengan masalah yang muncul saat ini. Namun Palang Merah fleksibel dalam menjalankan kegiatan relawannya sesuai dengan kendala yang membutuhkan pertolongan saat itu. .
Henry Dunant, Pemuda asal asal Swiss yang saat perjalannya ke Prancis pada 24 Juni 1859 menyadari dan tergetar oleh penderitaan tentara terluka saat pertempuran antara Austria dan Prancis sehingga Ia bekerjasama dengan penduduk setempat untuk bertindak dan mengerahkan bantuan untuk menolong mereka. Skembalinya ke Swiss, Ia lalu menuangkan kesan dan pengalamannya selama perjalanannya ke Prancis didalam buku yang berjudul “Kenangan dari Solferino” yang meggemparkan seluruh Eropa saat ini karena didalam bukunya mengandung dua gagasan utama yang intinya yaitu membentuk organisasi kemanusiaan Internasional dan mengadakan perjanjian Internasional guna melindungi para prajurit yang yang cidera di medan perang pert pelindungan sukarelawan. Selanjutnya 1863, empat orang kota Jenewa bergabung dengan Henry untuk mengembangkan gagasan tersebut dan berasil membentuk International Committee of the Red Cross (ICRC) yang kini dikenal dengn nama Perhimpunan Nasional Palang Merah atau Bulan Sabit Merah.
.
Hingga sat ini, nama Perhimpunan Nasional Palang Merah atau Bulan Sabit Merah didirikan hampir di setiap Negara di seluruh dunia dan kini telah berjumlah 176 Perhimpunan Nasional , termasuk Palang Merah Indonesia.
Palang Merah Indonesia adalah organisasi kemanusiaan yang berstatus badan hukum berdasarkan UU No. 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan guna menjalankan kegiatan kepalngmerahan sesuai dengan Konvensi Jenewa tahun 1949 dengan tujuan mencegah dan meringankan penderitaan dan melindungi korban tawanan perang dan bencana tanpa membedakan agama, bangsa, jenis kelamin, warna kulit, golongan dan pandangan politik Palang Merah Indonesia merupakan organisasi yang didirikan oleh colonial Belanda pada 21 Oktober 1873 dengan nama Het Nederland-Indische Rode Kruis (NIRK) yang kemudian diganti menjadi Nederlands Rode Kruiz Afdelinbg Indie (NERKAI). Pada 3 September 1945 Presiden Soekarno memerintahkan Menteri Kesehatan Dr. Buntaran Martoadmojo untuk membentuk badn Palang Merah NAsional untuk menunjukan pada dunia bahwa keberadaan Negara Indonesia adalah suatu fakta nyata setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Terwujudnya PMI yang professional dan berintegritas serta bergerak bersama masyarakat adalah visi mulia dari gerakan Palang Merah Indonesia. Saat ini hal ini dibuktikan dengan relawan Palang Merah Indonesia dengan koordinsi dan bekerjasama dengan dinas Kesehatan yang siap dikerahkan dalam rangka mendukung imunisasi saat pandemic COVID-19 . Tak hanya di Indonesia, Federasi Palang Merah Internasional di Jenewa, Swiss juga ikut mendukung secara luas imunisasi rutin dan kampanye vaksinasi sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit sebagimana keterangan resmi diterima oleh Health Liputan6.Com.
Hingga saat ini telah berdiri di 33 Provinsi, 474 Kabupten/Kota dan 3406 kecamatan (data perfebruari 2019). PMI telah mempunayi hampir 1,5 juta sukrelawan yang siap melakukan pelayanan.
Nah, dari artikel ini kita ambil kesimpulan bahwa tugas dari Palang Merah akan bersifat sngat fleksibel disesuaikan dengan kejadian yang terjadi pada masa tersebut namun tetap memegang visi mulia dari Palang Merah Indonesi yaitu Terwujudnya PMI yang professional dan berintegritas serta bergerak bersama masyarakat.
Assalamualaikum warah matullahi Wabarakatuh Sebelum kita cuss ke hari ketiga pengabdian, saya bakalan perkenalkan diri kami dulu. Siapa siapa saja sih yang menjadi team pengabdian di desa tambunan ini, yahh walaupun memang seharusnya perkenalan itu sebaiknya di cerita hari pertama. Namun, saya rasa pas hari pertama itu akan terlalu banyak yang saya perkenalkan. Jadi pas di part ini lah saya memperkenalkan kami Akhwat yang insyaallah kuat lagi tangguh dari kelompok 1 dan 5 pengabdian dakwah Addakwah Sumut angkatan ke-10.
Foto ini diambil di Vila Mari Pro di Desa Tambunan
Pertama perkenalan dari paling kiri foto, namanya Ukh Dian Pahlevi Siregar (Hijab Hijau) adalah Mahasiswi UNIMED jurusan Pendidikan Manajement Semester 3. Sebelahnya adalah Ukt Kurnia Khairiyah Damanik yang merupakan mahasiswi UINSU jurusan Pendidikan agama Islam semester 5. Disampingnya pula adalah saya sendiri Sulistianti Siregar mahasiswi PGMI UINSU semester 3. Sedangkan yang paling kanan adalah ukh Suryani Hadaniyah Hasibuan dan dia adalah mahasiswi UINSU jurusan yang sama dengan Ukh Kurnia tapi Semester 3. Jadi kami berempatlah yang mengabdi selama 10 hari di desa Tambunan, Kec. Sibolangit.
.
. Okeee, kita menuju ke cerita kami di hari ketiga. Hari Kamis, 17 Januari 2019.
Dimulai waktu kami bangun tidur kira2 pukul setengah 6 pagi. Namun disana, pukul segitu matahari belum menampakkan cahayanya dan masih seperti malam. Pagi ini kami memang harus ke Kamar mandi umum desa ini seperti yang direncanakan malamnya. Baca terlebih dahulu perjalanan dakwah hari kedua agar tahu kan alur ceritanya di hari kedua pengabdian yah readers.
Kami tunggu sampai jam 6 pagi dan akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari rumah kira kira pukul 6.15 WIB kami memberanikan diri menuju ke tempat pancuran air yang letaknya di belakang kantor kepala desa. Inilah kali pertamanya kami ke pancuran itu dengan matahari yang masih enggan menampakkan cahayanya ditambahlagi dengan membawa dua jerigen air yang ukurannya lumayan besar untuk sekalian menampung air untuk kebituhan memasak di rumah. Tapi perjalanan kami tidaklah semulus perkiraan, Kenapa???
.
Jeng jeng jeng….
Jawabannya karena di sepanjang jalan menuju pancuran pemandian umum, kami menemukan banyak sekali anjing berkeliaran dan juga banyak kotoran nya yang bertaburan tak beraturan di sepanjang jalan. Hal ini membuat kami selalu mengangkat sedikit gamis atau rok yang kami pakai apabila keluar rumah. Kalau bisa dikatakan, banyaknya anjing disini sama halnya dengan banyaknya anak ayam yang berkeliaran dipagi hari di kampung saya, bahkan lebih banyak ditemukan anjing daripada kucing disini. Setelah sampai ke pancuran, Terkejut kami terheran heran, sebab kami fikir kamar mandinya tertutup dan banyak pancurannya. Nyatanya hanya ada satu pancuran besar dan kamar mandinya beratapkan langit dan dikelilingi kebun dan pohon besar. Aduhh…. Kuatkan Kami ya Allah.. Walau dengan menghabiskan waktu yang lumayan lama, akhirnya kami selesai juga dan pulang membawa dua jerigen yang berisi air. Lagi lagi kami mengahabiskan waktu hampir satu jam membawa air menuju rumah. Karna jalan yang harus kami lalui adalah menaik sehingga kebanyakan istirahatnya daripada berjalannya. Tapi kami tidak sepenuhnya lelah lantas melupakan bahwa perjalanan yang kami tempuh ini sangatlah indah dipandang, ada banyak sekali bunga bewarna warni nan elok di sepanjang jalan. Ini juga yang mengakibatkan perjalanan kami memakan waktu satu jam ke rumah. Heheheh Setelahnya kami masak dengan kakak dirumah dan makan, lalu berangkat menuju kantor kepala desa untuk meminta izin dan didampingi oleh pak Arman. Sesampainya kami di kantor kepala desa, lagi lagi anjing selalu menghalangi jalan kami. Sesuai rencana, kami akan menemui pak Arman di kantor kepala desa dan saat kami tiba disana, pak Arman belum tiba sementara di depan kantor kepala desa ada anjing besar yang menurut kami adalah anjing yang sangar, sehingga kami menunggu pak Arman datang barulah bisa masuk ke kantar kepala desa. Kami masuk ke kantor dan ternyata kepala desanya tidak berada disana sehingga saat itu kami meminta izin hanya kepada perangkat desa. Setelah mendapatkan izin dari kantor krpala desa, kami menuju masjid yang letaknya 300 meter dari kntor kepala desa. Sampai di masjid Al-Fadanta, kami bersih bersih masjid yang memang kondisinya kurang terawat ditambah lagi banyaknya bekicot atau hama yang naik ke tangga masjid. Selesai kami bersih bersih, pak Ridwan membawakan air wudhu ke masjid dengan galon air. Yahh karena di masjid ini air masuk ke kamar mandi hanya di hari jumat saja, dan untuk dihari biasa tidak ada. Jadi kami berwudhu dan sholat Dzuhur berjamaah di masjid.
Setelah sholat, akhirnya ada beberapa anak yang di desa dekat masjid rumahnya datang ke masjid dan ingin belajar bersama kami. Hari ini adalah hari pertama kami mengajar disini. Murid yang hadir pada hari ini tidak lah banyak seperti di desa Pengabdian rekan Addakwah yang lain. Sebab hari ini kami memiliki 3 siswa yaitu Ilham (kelas 1 sd), Ihsan (kakak Ilham kelas 4 sd), Tsani (kelas 4 sd) dan 2 siswi yaitu Ainun dan Aisyah (kelas 1 smp). Dan agar pembaca tahu bahwa murid yang kami ajari selama disini hanyalah 10 orang, dan sangat jarang berkumpul bersamaan kesepuluhnya. Dan materi yang kami berikan adalah iqro’dan doa makan. Samapai Asar kami di masjid dan pulang kembali setelah sholat Ashar. Berhubung karena hari ini juga kami pindah ke temapat Bang Udin (adik Pak Arman), jadi kami mapir dahulu ke warung dan akhirnya kami beranikan diri untuk meminjam 2 sepeda motor untuk mengangkut barang kami yang lumayan banyak di rumah Pak Arman. Sebenarnya kami segan meminjam sepeda motor ini, namun melihat jarak dan beban yang akan kami bawa, rasanya tidak mungkin kami mengangkatnya pulang balik. akhirnya kami diberi kunci dan cuss pergi ke rumah pak Arman dan membawa semua barang barang dan tidak lupa juga berpamitan dan berterimakasih. Perjalanan lagi lagi tidak semula yang diperkirakan, sepertinya Allah sangat senang memberikan kejutan manis kepada kami selama pengabdian ini, salah satu sepeda motor yang kami tumpangi mogok ditengah jalan. Alhamdulillah nya, ada beberapa warga desa yang kami tahu mereka merupakan nonmuslim mau membantu kami memperbaiki sepeda motornya sampai bisa dijalankan kembali. Nyata memang bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi seseorang untuk saling membantu dan tolong menolong.
.
.
. Sampai di rumah Bang Udin, ternyata sudah digelarkan tikar dan karpet tebal untuk tempat tidur kami dan juga selimut tebal yang khusus dibawakan oleh Tigan kepada kami sehingga kami tidak merasakan kedinginan dimalam hari, begitulah kata Tigan. Setelahnya kami bereskan barang barang, mandi, dan bersiap pergi ke masjid untuk sholat magrib dan Isya. Kami berfikir bahwa adik adik yang tadi siang datang ke masjid untuk belajar akan datang lagi namun kami tunggui bahkan samapai Isya tak ada yang datang satu orang pun.Ingin sekali bertanya namun tak tau harus bertanya kepada siapa, rumahnya adik itu pun kami tidak tau, akses kesana pun kami tidak tau. Bahkan alasan kenapa tak ada yang sholat kami Pun tidak tau harus bertanya kepada siapa. Dan yang paling membuat hati sedih adalah bahwa di masjid ini sering tidak ada azan sholat dan tidak ada imam dan hanya kami berempatlah yang berjamaah. Awal pengabdian yang cukup memeras perasaan bukan?? Bagi kami yang berasal dari daerah yang mayoritas muslim, Yang saya tau tak ada masjid yang tidak rutin azan, yang daya tau selalu ada orang di masjid tidak seperti sekarang ini. Hal ini sangatlah perih di dada, rasanya ada bongkahan besar yang menggetarkan hati nurani. Ingin menangis rasanya saat ada masjid namun tak berpenghuni, saat ada banyak sekali mushaf Alquran namun tidak tahu apakah Mushaf itu pernah dibaca atau hanya sekedar dibalik, sakit rasanya sampai tak tertahankan, dan disinilah kami yang saling mendukung, saling menguatkan, saling memotivasi akhirnya terpuruk dan hampir putus asa. Tak ingat lagi akan semua niat awal dan di fikiran kami hanya pulang lagi ke Sembahe. Kami sudah menghubungi pembina Addakwah sampai beberapa kali namun belum diangkat juga. Kami menghubungi teman teman yang di Sembahe dan meminta tolong agar kami di jemput oleh Pak Doni besok. Semua mereka yang di Sembahe bingung dan cemas dengan keadaan kami dan akhirnya mereka menelepon pembina dan akhirnya insyaallah besok kami akan di jemput. Setelahnya kami dipanggil kakak (istri bang Udin) untuk makan bersama. Kami pun pulang kerumah dengan langkah yang berat dan menatap kebawah, rasanya ingin menangis jika menatap keatas. Kami tidak tau rasa apa itu, rasanya sangat sakit tanpa alasan yang jelas.
Akhirnya Sampailah kami dirumah dan makan bersama, ada juga Tigan yang sudah menunggu kami. Selama dua hari disini memang hanya Tigan lah yang memberi semangat dan motivasi, dan kami sudah dianggapnya putri nya sendiri. Rasanya tak ada lagi yang bisa dipertahankan dan diperjuangkan disini, kami tidak tau arah dan tidak ada yang mengarahkan kami, kami ingin sosialisasi tapi kami tidak tau dimana rumah muslim bahkan dimana letak pemukiman yang di desa Tambunan ini pun kami tidak tau. Dan saat itu juga hanya ada murung dan keterpurukan. Niat tidak lagi sekokoh biasanya.
Setelah makan dan masih di tempat makan kami berbincang bincang mengenai rencana kegiatan besok, Saat berbincang bincang inilah kami diberitahu yang kesimpulannya adalah sebenarnya mereka membiarkan kami sehari ini akrena ingin kami yang berbicara pertama, karena mereka segan karena kami berasal dari kota. Mereka juga ingin mendengar apa rencana kami selanjutnya. Bang Udin menjelaskan bahwa mulai saat sejak kami datang ke rumahnya, sebenarnya kami sudah dianggap adik nya sendiri, Beginilah keadaan desa dan keluarganya, sederhana dan apa adanya. Bang Udin juga berkata kepada kami untuk menganggap rumah ini adalah rumah kami sendiri, jadi tidak perlu segan seperti hari ini, mereka hanya ingin melihat bagaimana respons kami terhadap desa dan kesederhanaannya, dengan segala kekurangannya, inilah mereka dengan apa adanya karena semuanya akan indah saat kita menampakkan sesuatu sesuai dengan kenyataannya tanpa ada yang ditutup tutupi. .
. Pokoknya intinya kami merasa suudzon dan merasa bersalah karena sudah hampir putus asa. Saat itu juga semangat yang meredup bahkan hampir mati, hidup kembali. Tak ada yang menyangka bahwa dalam waktu 2 jam hati kami berbalik lagi. Sungguh memang Allah Maha Membolak Balikkan hati hambanya. Maafkan kami ya Allah sudah berburuk sangka pada hambaMu yang baik ini. Yang mau menerima kami dan sudah menganggap kami sebagai keluarganya sendiri.
Tak hanya menjadi orang pendatang, tapi Engkau berikan kepada kami keluarga disini. Engkau tak berikan kami ayah dan ibu asuh tapi Engkau berikan kami Bolang, Tigan, kakak, abang dan adik adik yang selalu menyayangi kami setulus hati tanpa pamrih. Maafkan kami ya Allah yang sudah Bersuudzon pada Mu.
Kini pukul 00.00 wib dan setelah perbincangan itu kami kembali ke ruang tangah tempat kami tidur dan langsung menghubungi pembina dan teman di Sembahe untuk mengabari mereka bahwa kami baik baik saja disini dan semua masalah telah teratasi, jadi kami tidak perlu di jemput besok. Namun, baik itu teman di Semabahe atau pembina kami tak ada yang mengangkat karena memang sudah sangat larut. Kami berharap pagi hari cepat datang dan kami ingin cepat cepat mengabari mereka. Akhirnya kami tidur dengan hati yang ikhlas ditemani dengan selimut tebal yang menambah kenyamanan dan kehangatan dikala dinginnya malam di Tambunan. . . . Untuk kesimpulannya, menurut saya hari ini adalah hari terberat kedua selama pengabdian, untuk hari terberat pertama itu akan saya beritahu di part berikut berikutnya. Btw, kenapa menurut saya berat?? Karena pada hari ini kami kehilangan semua semangat, usaha, niat, dan semua prasangka baik. Saat kami lihat postingan rekan Addakwah kelompok lain memiliki banyak sekali murid dan rutin belajar,Benar kami iri saat melihat yang lain. Disambut kedatangannya, di jamu dengan sangat istimewa, semua murid sudah ada yang datang, ada pengajian tetap, ada pebagian tetap, sementara kami 5 murid yang datang pun sudah sangat bersyukur. Tapi Disinilah salah kami, Kurang Bersyukur. Padahal di hari hari selanjutnya mungkin pengabdian kamilah yang paling menyenangkan, penuh rintangan, perjuangan, canda dan tawa dan banyak sekali kebahagiaan yang kami dapat. So selalu yah baca cerita selanjutnya. Tetap bersama kami dari LPD Addakwah Sumut
. Berbagi dan Menginspirasi الله اكبر Salam hangat dari kami, semoga menginspirasi Wassalamuaalaikum warahmatullahi wabarakatuh
Oke sekarang saya akan melanjutkan cerita pengabdian dakwah kami di hari kedua di Sembahe. Oh iya cerita pertama sampai dimana ya??? Hmm?? Oh iya sampai tidur di masjid.
Jadi setelah berbincang bincang di masjid bersama masyarakat dan para pengurus masjid kami tidur kira kira pukul 22.00 WIB. Ada juga cerita lucu ketika kami bangun pagi, ceritanya kan kami tidur di masjid nih. So otomatis pas sebelum subuh masjid harus sudah dibuka semua pintunya karena akan datang jamaah yang akan sholat subuh. Entah apa yang terjadi, mungkin karena terlalu kelelahan perjalanan atau mungkin lupa kalau kami lagi di masjid, akhirnya kami tidur syantiks sampai Pak Haji menggedor gedor pintu masjid dan terjadilah KETERISASI. Heheheh
Okee, selanjutnya kami sholat subuh dan juga mempersiapkan diri dan juga bersih bersih masjid lalu kemudian turun ke rumah Pak Kumis untuk memasak kue dan belanja keperluan makanan di masjid. Waktu itu kami masak kue bugis pakai labu kuning dan membuat gorengan bakwan dan ini asli masakan kami semua.
foto ini diambil waktu kami meracik racik bahan masakan nya dan ini bukan pencitraan yah, ini dokumentasi bukan pencitraan Oke. 🤓
Berhubung karena hari ini adalah hari kami akan diantar ke desa Tambunan dan Tanjung Beringin, jadi kami tidak mengikuti perwiritan karena dikhawatirkan kami sampai kesana kemalaman.
Oh iya saya lupa memberitahu kepada pembaca, bahwa tadi malam kami diberitahu bahwa pengabdian di desa Tambunan dan Tanjung Beringin disatukan di desa Tambunan berhubung karena masjid di Tanjung Beringin sudah datar dengan tanah, dan akses kesana juga yang lumayan sulit dilalui. Rekan saya dikelompok 5 berjumlah 3 orang, tetapi berhubung karena yang mengabdi di desa Sembahe hanya berdua, sebenarnya bukan berdua tetapi juga didampingi oleh kakak angkatan kami, namun pendamping kami tidak bisa mengikuti pengabdian sampai hari terakhir karena ada urusan pribadi. Yah jadi salah satu teman yang seharusnya mengabdi di desa Tanjung Beringin tetap tinggal dan mengabdi di desa sembahe. Dan jadilah kami yang pergi ke desa Tambunan hanya berempat saja.
Lanjut kecerita selanjutnya, Setelah makanan semua masak, kami kembali ke masjid dan membawa makanannya. Sesampainya di masjid kira kira pukul 2 dan sudah ada beberapa Bapak bapak yang menghadiri pertemuan antardesa ini. Disina kami hanya berempat dan harap harap cemas menunggu bagaimana nasib kami selanjutnya.(heeheheh, biar agak dramatis sedikit).
Sampai akhirnya kami menunggu hingga sholat Ashar. Nah disini nih deg deg nya mulai terasa, kenapa??? Karena kami berempat di panggil ke pertemuan dan ditanyai mengenai banyak hal. Mulai dari apa itu Addakwah, apa tujuannya, apa yang akan kami lakukan, dan banyak lagi tapi yang paling buat kami deg itu pas ada seorang bapak yang mewakili desa Tambunan berkata pada kami “dek,maaf sebelumnya, tapi desa kami sangat berbeda dari yang adik adik fikirkan, akses ke desa kami sangat sulit karena melewati jalan berbatu dan keadaan jalan yang menanjak, ditambah lagi di desa kami air tidak masuk ke rumah rumah, jadi harus mengangkat air setiap hari dan untuk mandi pun harus ke pemandian umum. Mungkin adik adik tidak akan nyaman disana. Jarak rumah muslim yang satu dengan yang lainnya juga harus ditempuh dengan sepeda motor karena jarak yang jauh“. Dan kira kira begitulah kata bapak tersebut. Tapi Pak Doni sebagai penanggungjawab kami menjelaskan dan berkata bahwa memang kami sudah dilatih untuk itu, untuk tetap melanjutkan jalan dakwah bagaimana pun keadaan dari desa itu, untuk dapat berbaur dan menerima segala keadaan apapun itu selama berada di jalan dakwah. Disitu kami mulai ada rasa takut dan juga penasaran dengan desa Tambunan ini.
Apakah sebegitunya desa Tambunan ini??
Pak Doni selanjutnya bertanya kepada kami dengan nada yang sedikit kuat dan tegas “Setelah kalian mendengar penjelasan bapak ini apakah kalian siap untuk mengabdi di desa Tambunan?? ” dengan tegas juga kami jawab “Siap pak“. Dan pertanyaan itu di tanyakan sebanyak dua kali kepada kami dengan jawaban yang sama yaitu kami siap mengabdi disana. Jujur sebenarnya waktu itu kami ada cemas, khawatir dan juga rasa takut tapi lagi lagi kami ingat pesan pembina kami di Addakwah untuk perbaiki niat, niatkan hanya kepada Allah swt. Dan akhirnya kami insyaallah ikhlas menjalani pengabdian ini meski dengan hati yang kurang mantab.
Belum sempat kami berangkat ke Desa Tambunan, kawan kawan yang tadi ke perwiritan sudah tiba lagi di masjid Sembahe dan heran melihat kami yang sudah dalam keadaan diam dan menunduk. Lalu mereka bertanya apa yang terjadi, dan kenapa kami begitu. Akhirnya kami ceritakan bagaimana kondisi desa sesuai dengan yang diceritakan tadi. Disinilah meraka menyemangati kami lagi, membangkitkan semangat kami lagi, memberikan motivasi dan masukan yang sangat membantu kami dari kekhawatiran, meskipun kami tau mereka juga khawatir dengan kami, tapi mereka tidak menempakan itu dan malah mendororong kami agar kami semangat lagi di jalan dakwah ini.
Setelah sholat Ashar, kira kira pukul 17,00 Wib kami berangkat ke desa Tambunan dengan diantarkan dengan sepeda motor dan membawa barang barang kami yang lumayan banyak, karena kami juga membawa beberapa hadiah dan barang barang lainnya yang berguna untuk pengabdian selama di sana.
Selama perjalanan menuju desa awalnya jalannya biasa saja, namun setelah melewati beberapa desa baru lah kami rasakan jalan seperti yang dikatakan bapak tadi, jalan yang berbatu besar dan menaik dengan frekuensi naik yang sangat terjal dan berbahaya bagi yang belum terbiasa melewatinya.
Dan akhirnya kami sampai ke desa Tambunan. Yeyy😊😁
Sesampainya disana kami diajak kerumah bapak tadi dan akhirnya kami tahu bahwa bapak tersebut bernama bapak Arman Ginting. Disana kami disambut oleh orangtua pak Arman dan Pak Ridwan yang merupakan guru agama Islam di sd Tambunan ini . Dan untuk malam ini kami akan menginap disini karena berhubung keesokan harinya kami akan pindah kerumah adik pak Arman yang lokasinya dekat dengan masjid dan alhamdulillah sudah masuk air dirumahnya. Setelah sholat magrib akhirnya Pak Doni dan Bapak yang dari Sembahe undur diri untuk pulang dan memberikan tanggungjawab kami kepada Pak Arman. Setelah sholat magrib, saya dan salah satu rekan saya melihat lihat keadaan lingkungan disana, dan kami melihat ada seorang nenek yang bukan lain adalah istri dari kakek. Nah disini kami jadi berempat berbincang bincang mengenai asal usul dan juga tentang bagaimana perjuangan mereka dalam mendirikan mesjid di Tambunan ini yaitu Masjid al-Fadanta.
Banyak sekali hal yang diberitahukan Tigan dan Bolang (sebutan untuk nenek dan kakek). Kami berbincang bincang hingga tak terasa azan Sholat Isya terdengar ke seluruh penjuru desa, dan sesuai dengan rencana kami akan berangkat ke masjid setelah azan.
Yang tak kalah menarik dari cerita perjalanan ke masjid ini yaitu awalnya nenek bilang masjidnya dekat, namun ternyata jalan ke masjid itu tak ada penerang sedikitpun kecuali dari senter dan hp yang kami bawa, melewati kebun kebun warga, dan menempuh jarak yang menurut kami lumayan jauh dari rumah. Berbanding terbalik dengan dekat yang disebut Tigan sebelumnya. Tapi tak apalah, insyaallah kami ikhlas.
Okeey, setelah sampai ke masjid, dan selesai sholat isya, kami berbincang bincang sebentar dengan remaja masjid tentang rencana kami selanjutnya dan juga menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan masjid.
Setelah dari masjid kami di panggil nenek ke rumah anaknya yang dekat dengan masjid dan disinilah kami besok akan pindah. Rumah yang akan kami tempati ini kebetulan juga ada warungnya dan kami diajak kesana. Jauh dari bayangan kami, ternyata sudah ada beberapa masyarakat yang muslim berkumpul disana dan menunggu kami.
Kalau rasa deg deg kan jangan ditanyakan lagi, kalau bahasa akademiknya kami seperti di sidang. Kami di suruh duduk dan ditanyai lagi tentang banyak hal, mulai dari perkenalan diri, asal, alasan datang kesana, apa itu addakwah, tentang surat izin, kelanjutan tempat tinggal, makan, dan banyak sekali lah yang ditanya. Dan isnyaallah kami dapat menjawabnya dengan jawaban yang mantab. Dan Sepertinya ini ujian pertama yang telah kami selesaikan di desa ini.
Setelah selesai berbincang bincang akhirnya kami pun pulang ke rumah dengan diantarkan dengan sepeda motor.
Sesampainya dirumah, kami diajak lagi berbincang bincang dan disini pak Arman meminta maaf kepada kami karena mungkin sewaktu di warung kami seperti terkesan di interogasi, namun bapak tersebut menjelaskan bahwa sebenarnya hal itu karena kami lah mahasisiwa yang pertama kali datang untuk mengabdi ke desa Tambunan ini, jadi sekalian untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa setiap ada pendatang, harus dengan melewati prosedurnya dahulu itulah alasan kenapa kami dimintai surat pengantar.
Kemudian Pak Arman menjelaskan lagi bahwa sebenarnya mereka sudah percaya kepada kami dan untuk surat itu tidak perlu lagi. Ada rasa lega setelah Pak Arman berkata seperti itu, karena masalah untuk surat itu sebenarnya adalah tidak adanya tempat printer di desa ini, dan masalah ini sempat membuat kami khawatir juga. Tapi alhamdulillah nya masalah ini terselesaikan.
Fighting! 💪💪
Sebelum kami tidur, pak Arman juga mengingatkan kami jika mau mandi besok, maka harus mandi ke kamar mandi umum pagi pagi, karena akan ramai orang yang mandi setelah terang hari. Dan tampaknya kami memang harus lebih bersemangat untuk keesokan harinya.
Sepertinya cerita hari kedua sampai disini yah, berhubung memang ceritanya memang sampai kami tidur saja dan sampai pada tahap ini belum ada permasalahan ataupun halangan dakwah yang berarti. Namun, di hari ketiga sudah mulai tampak halangan dan rintangannya lhoo. So, nantikan cerita kami lagi yah untuk Pengabdian hari ketiga di desa Tambunan. Dan Terimakasih telah membaca dan kita berjumpa di hari ketiga oke.
Kembali lagi ke wordpress saya yang postingannya mudah mudahan bermanfaat bagi para pembaca dan terkhusus untuk saya sendiri. Kali ini saya akan posting puisi yang terinspirasi sewaktu kami pengabdian dakwah. Pada satu titik saya merasa bahwa keadaan tersebut sangat cocok diabadikan dalam sebuah karya puisi. yah, walaupun diksi nya masih kurang dan masih terkesan seperti bercerita, tapi saya berharap puisi ini bisa menyampaikan bagaimana pesan yang dapat dipahami oleh semua pembaca. Cerita ini dilatarbelakangi saat mereka bercerita kepada kami tentang surga yang tersembunyi. Katanya ada surga disana, namun masih tersembunyi hingga pada akhir pengabdian kami sadar apa surga yang di maksud. Dan di puisi ini saya menuangkan surga apa yang tersembunyi disana. Satu hal yang dapat saya pahami bahwa tidak semua surga itu adalah materi.
Foto diambil saat perlombaan yang diadakan sebelum tablig akbar. Kamis, 23 Januari 2019 di masjid al-Fadanta desa Tambunan
Tak ada yang peduli Tapi dia ada Tak ada yang sadar Dia kecil.. Tapi dia cahaya itu
Yah, Dia cahaya kecil di kegelapan Dia cukup bersinar Namun tak cukup menyinari semua
Ada surga tersingkap dari kening kecilnya… Mereka berkata “Apakah kamu Muslim? “ Dia menunduk, diam seribu kata Seakan angin panas sedang menerpa wajah polosnya
Kami hanya pengembara.. Sementara.. Tapi kami sadar keberadaannya Cahaya itu mengikuti setiap langkah pijakan Seakan berucap “Aku harus ikut, bagaimana jika nanti kalian tersesat?.“
Terkadang dalam perjalanan ini, kami tak mengikutsertakannya.. Kami cemas.. Kami tau dia rapuh.. Bahkan teramat Dia berkata “Bawalah aku kemanapun kalian pergi, aku akan menjadi setitik penerang gelapnya jalan ini. Jangan. risaukan aku, sebab aku akan kuat bila dengan kalian.”
Sayang…. Taukah kamu dimana letak surganya? Ada pada dirimu dik, Jatah kedewasaanmu yang belum seberapa, Tapi keadaan menjadikanmu untuk hebat, Meski disuguhkan dengan sisi yang berlainan dari kenyataan yang sebenarnya
Tersentak batin kami saat kamu katakan “Kak, itu tempat tinggalku“. Ada peradaban yang lain memancar dari salah satu sisinya,
Ada perbedaan nyata disana
Kamu lah surga di sekat hangat itu… Kamulah surga yang mendekap kami. Menemani dalam memapah kami melewati sudut yang berbeda, yang tak pernah kami jalani sebelumnya. Kau yang memberi sinar cahaya itu.. Sedang kami hanya mengarahkan sedikit yang kami mampu
Ada surga disana, namun tersembunyi dalam dekapan. Saat kami lalui jalan ini bertemankan lentara sebagai penerang jalan, Akhirnya kami temui surga yang tiada pernah di terjamah ini.
Saat mereka berjuang melangkah menuju jalan-Nya. Banyak sekali hinaan, tusukan omongan, mengombang-ambingkan keyakinan dan kepercayaan
Dengan izin dan keberkahan niat yang mulia Mereka dengan sigap bangga tak menghiraukan Tetap berpegang teguh dengan tali kebenaran yang menghantarkan hidup kepada fatamorgana surga nan indah dan menawan
Puisi teruntuk adik adik Muslim di desa Tambunan Kami sayang pada kalian dik, tetaplah kuat dalam mempertahankan iman. Sebab tak ada yang lebih penting daripada keimanan seorang hamba kepada Rabb nya.
Salam dari kelompok pengabdian dakwah di desa Tambunan Addakwah sumut angkatan ke-10 Berbagi dan menginspirasi
Alhamdulillah kita ucapkan kehadiran Allah Swt. Yang senantiasa memberi nikmat yang sangat banyak kepada kita sehingga masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk dapat menjalani pengabdian dakwah selama kurang lebih 12 hari di desa Sembahe dan desa Tambunan.
Saya bukanlah seorang yang pandai dalam menulis dan membuat cerita yang menarik. Namun disini saya mencoba untuk membagikan sedikit cerita yang kami dapatkan selama pengabdian dakwah yang insayaallah sangat berguna bagi kami dan juga kita semua.
Saya mulai dari perkenalan dahulu. Pertamanya, kami pengabdian ini bukanlah dari kampus, melainkan dari organisasi yang bernama LPD Ad-Dakwah yang dimana sebelum kami ditempatkan di desa desa terlebih dahulu kami di diberikan pelatihan dan bimbingan dakwah dari para pemateri yang di laksanakan setiap hari minggu nya di Masjid al-Ikhlasiyah Medan. Pelatihan ini berjalan selama kurang lebih empat bulan dan kami diajarkan bagaimana cara berdakwah, retorika dakwah, adab berdakwah, materi dakwah dan masih banyak yang kami pelajari ditambah juga dengan diadakannya kajian rutin perbulann yang menampilkan dakwah dari pemateri dan peserta pelatihan .
Jadi, setelah mendapatkan bimbingan dan menyelesaikan semua urusan dikampus masing masing, lalu diadakanlah pengabdian dakwah ke desa desa binaan Addakwah yang dimana lokasinya sendiri merupakan desa yang minoritas muslim.
Satu hari sebelum keberangkatan, diadakan pembekalan dari pembina kepada peserta pengabdian dan memberikan arahan mengenai kelompok pengabdiannya, lokasi pengabdian, apa apa saja yang perlu dibawa dan disiapkan dan semua yang berkenaan dengan pengabdian dakwah itu. Adapun saya merupakan anggota kelompok pertama yang terdiri dari 3 orang, namun salah satu rekan saya berhalangan hadir karena masih ujian di kampus. Oleh karena itu akhirnya kami hanya berdua dan ditempatkan di Desa Tambunan.
Semua persiapan kami persiapkan dengan matang sampai pada hari H keberangkatan kami yang dijadwalkan jam 9 pagi harus sudah kumpul di tempat yang di setujui. Kami memang berangkat bersama dengan semua kelompok kecuali satu kelompok karena lokasinya memang tidak terlalu jauh. Akhirnya kami sampai ke loket Murni dan menuju desa pengabdian.
Kami diberi informasi bahwa yang mengabdi di desa Tambunan dan Tanjung Beringin turun bersamaan dengan yang pengabdian di desa Sembahe karena lokasi desa yang berdekatan. Perjalanan kuranglebih ditempuh selama satu jam mulai dari jam 11.00 WIB dan tiba pukul 12 lewat di masjid Al- Qomar di desa Sembahe. For information, kami berangkat pada hari selasa 15 Januari 2019. Dan inilah kami dari tiga kelompok pengabdian dakwah ditambah satu yang mengambil foto ini.
Sesampainya disana kami beristirahat sebentar di masjid dan menunggu Nazir masjid. Ada cerita lucu saat itu, dimana sebelumnya kami disuruh untuk menunggu pengurus masjidnya, namun karena memang lokasi masjid yang berada di pinggir jalan, banyak sekali bapak bapak yang berdatangan ke masjid. Nah disinilah kami bingung, manakah bapak yang mau kami temui?. Disini kami mulai bingung dan agak segan dan kami sempat berpikiran untuk mengalami semua bapak yang datang ke masjid. Dan begitulah kami sampai seorang bapak memanggil kami dan berbincang sebentar sebelum melaksanakan solat Dzuhur.
Kami fikir yang menegur kami tadi adalah orang yang kami cari, ternyata kami salah lagi. Dan ternyata bapak tersebut adalah bapak Habib dan pak Kumis, sementara yang kami cari adalah pak Doni. Dan bapak Habib tersebut menjelaskan bahwa bapak tersebut juga pengurus masjid namun ketuanya masih belum datang karena sedang ada urusan.
Setelah solat Dzuhur kami berbincang bincang lagi dan makan nasi bungkus yang diberikan oleh bapak tersebut dan bapak itu pamit undur diri karena Ada urusan.
Setelah itu kami memasukkan barang barang ke sebuah kamar di dalam masjid dan beristirahat sejenak sebelum mengatur rencana dakwah selanjutnya sekalian menunggu kedatangan Pak Doni.
Akhirnya pak Doni dan Istrinya datang dan menemui kami, berhubung saat itu banyak rekan yang sedang istirahat dan tinggallah kami berempat dan daripada bosan kami disuruh buk Doni turun kebawah dan melihat sungai yang indah disana, sungai Sembahe.
Akhirnya kami turun dan bertemu juga dengan ibu Kumis dan beberapa masyarakat disana, berhubung karena air sungainya saat itu sangat bersih dan sejuk, rasanya sangat rugi apabila tidak mencebirkan badan ke sungai yang menjadi tempat wisata di desa Sembahe ini. Hingga pukul setengah empat sore kami bergegas kembali ke masjid dan mengganti pakaian.
Setelah Asar, kami ada yang memasak, membersihkan masjid, menyapu halaman masjid dan kegiatan lainnya sambil menunggu azan Magrib. Setelah solat magrib ada beberapa anak yang memang rutin mengaji di masjid ini dan kami pun mengajari mereka membaca Alquran dan sambil berkenalan dengan ibu ibu disana. Ba’da Isya, kami berbincang bincang ramah dengan masyarakat dan pengurus masjid disana dan sangat mengasyikkan karena memang masyarakat dan pengurus masjid disini sangat hangat menerima kedatangan kami. Selain berbincang mengenai masjid dan bagaimana penjemputan kami ke desa Tambunan dan Tanjung Beringin, juga berbincang mengenai kegiatan besok yaitu akan masak bersama untuk membuat hidangan untuk pertemuan di masjid keesokan harinya.
Malamnya kami tidur di masjid, ada yang di masjid dan ada juga yang di kamar masjid. Jadi disini kami merasa seperti kumpulan MARBOTAH (karena kami semua adalah perempuan).hehehe
Untuk kisah keesokan harinya kami di desa Sembahe dan Tambunen bakalan saya bagikan untuk kisah di hari ke dua pengabdian. Jadi baca terus yah lanjutan cerita pengabdian dakwah kami, semoga bisa menjadi bacaan yang bermanfaat bagi kita semua. Aamiin